Dunia kesehatan internasional kembali waspada dengan munculnya ancaman Virus Nipah. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan telah mengklasifikasikan virus ini sebagai patogen berisiko tinggi karena potensi pandeminya dan tingkat kematian (fatality rate) yang sangat mengkhawatirkan, yakni berkisar antara 40% hingga 75%.
Meskipun menjadi perhatian global, masyarakat Indonesia bisa sedikit bernapas lega. Menurut Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus, hingga saat ini Virus Nipah belum ditemukan di Indonesia.
Pemerintah terus melakukan pemantauan ketat di pintu-pintu masuk negara dan mengimbau masyarakat untuk tetap tenang sambil meningkatkan kewaspadaan mandiri.
Virus Nipah adalah virus zoonotik, artinya menular dari hewan ke manusia. Inang alami dari virus ini adalah kelelawar buah (famili Pteropodidae). Selain itu, virus ini juga bisa menginfeksi hewan ternak seperti babi, yang kemudian bertindak sebagai "jembatan" penularan ke manusia.
Infeksi virus ini bisa bervariasi dari tanpa gejala hingga kondisi yang fatal. Gejala umumnya meliputi:
Jika memburuk, pasien dapat mengalami disorientasi, kejang, hingga peradangan otak (ensefalitis) yang bisa menyebabkan koma dalam waktu 24–48 jam.
Siapa saja bisa terinfeksi. Namun, ada beberapa kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi untuk terinfeksi virus nipah, yaitu:
Hingga detik ini, vaksin khusus untuk Virus Nipah pada manusia belum tersedia. Oleh karena itu, pencegahan adalah satu-satunya senjata terbaik kita. Sobat Sehat sangat disarankan untuk melakukan langkah-langkah berikut:
Kewaspadaan adalah kunci. Meskipun virus nipah belum masuk di Indonesia, menjaga pola hidup bersih adalah investasi terbaik untuk kesehatan kita dan keluarga.
Sobat Sehat membutuhkan produk-produk untuk perlindungan diri, seperti masker dan hand sanitizer? Langsung ke Apotek K-24 terdekat saja karena produk-produk di Apotek K-24 ini sudah pasti komplit dan buka 24 jam. Ingat Sehat, Ingat Apotek K-24!