7 CONTOH MASALAH GIZI YANG BANYAK TERJADI DI INDONESIA

Kementerian Kesehatan RI menyebutkan bahwa permasalahan gizi di Indonesia ini bermacam-macam bentuknya. Bahkan, dalam perkembangannya masalah-masalah tersebut dikelompokkan menjadi masalah gizi yang sudah terkendali, belum diselesaikan, dan mengancam masyarakat. Lalu apa saja contoh masalah gizi yang dimaksud ini?

Menurut sebuah survei dari Studi Status Gizi di Indonesia, prevalensi gizi buruk di Indonesia masih di atas angka 20%, bahkan hampir sampai 25%. Angka tersebut masih jauh dari target pembangunan jangka menengah di Indonesia, yaitu 14%. Artinya, permasalahan gizi di Indonesia ini masih tinggi dan sangat membutuhkan perhatian.

Contoh Masalah Gizi di Indonesia

Pada umumnya, gizi merupakan persediaan bahan pangan yang dibutuhkan oleh organisme untuk bertahan hidup. Terdapat berbagai jenis gizi, mulai dari karbohidrat, lemak, protein, mineral, dan protein. Oleh karena itu, masalah gizi di Indonesia pun tidak hanya dalam satu jenis saja.

Permasalahan tersebut biasanya tergantung pada seseorang kekurangan asupan nutrisi apa. Berikut beberapa jenis masalah gizi yang sering terjadi di Indonesia:

1. Kekurangan Energi Protein (KEP)

Sama seperti namanya, masalah gizi yang satu ini terjadi ketika tubuh kekurangan sumber energi yang berasal dari protein. Ada tiga jenis KEP yang harus Sobat Sehat waspadai, yaitu marasmus, kwashiorkor, dan marasmus-kwashiorkor.

Beberapa tanda ketika seseorang mengalami kekurangan protein adalah berat badan di bawah normal, lelah terus-menerus, hilang nafsu makan, mudah kedinginan, kulit kering, dan penyusutan otot. Keadaan ini bisa berbahaya karena penderita akan mudah terkena penyakit tertentu.

2. Kekurangan Vitamin A (KVA)

Contoh masalah gizi yang sering terjadi di Indonesia selanjutnya adalah kekurangan vitamin A. Masalah ini banyak dialami oleh ibu hamil serta anak-anak dan bisa berakibat fatal jika dibiarkan. Pada anak-anak, risiko kekurangan vitamin A dapat menyebabkan masalah penglihatan hingga kebutaan.

Sedangkan ibu hamil yang kekurangan vitamin A bisa meningkatkan risiko kematian saat persalinan. Selain itu, ada juga risiko mudah terserang penyakit diare dan campak.

3. Gangguan akibat Kekurangan Yodium (GAKY)

Mineral yodium sangat diperlukan tubuh untuk menghasilkan hormon tiroid yang dapat mengatur pertumbuhan, metabolisme, dan denyut jantung. Biasanya orang yang kekurangan yodium akan mengalami pembengkakan kelenjar tiroid secara tidak normal.

Pada umumnya, pembesaran kelenjar tiroid ini sering dikenal dengan penyakit gondok. Untuk menangani masalah ini, pemerintah menyarankan untuk memberikan tambahan yodium pada semua produk garam di Indonesia.

4. Anemia Zat Besi (AGB)

Anemia merupakan kondisi tubuh ketika kekurangan sel darah merah sehingga tidak bisa membawa oksigen ke seluruh tubuh. Contoh masalah gizi yang satu ini bisa terjadi pada siapa saja, khususnya ibu hamil. Penyebab utama dari anemia adalah tubuh kekurangan asupan makanan yang mengandung zat besi.

Penyakit anemia ditandai dengan beberapa gejala, yaitu: pucat, mudah lelah, pusing, dan detak jantung yang tidak teratur. Pada ibu hamil yang mengalami anemia bisa meningkatkan risiko meninggal dunia saat proses persalinan.

5. Stunting

Salah satu masalah gizi di Indonesia yang sangat serius adalah stunting. Sebab, pasti ada 1 di antara 4 anak yang mengalami stunting. Penyebab stunting adalah kekurangan asupan gizi dalam jangka waktu panjang karena makanan yang tidak sesuai kebutuhan.

Stunting sebenarnya bisa terjadi ketika masih dalam kandungan dan akan terlihat ketika anak sudah berusia dua tahun. Ada beberapa akibat dari stunting, yaitu postur anak yang lebih pendek, berat badan lebih sedikit, pertumbuhan tulang tertunda, anak cenderung terlihat lebih muda dan kecil.

Masalah stunting ini bisa mempengaruhi perkembangan otak dan mengurangi produktivitas seseorang. Selain itu, orang yang mengalami stunting jugamudah terkena penyakit diabetes, hipertensi, dan kematian akibat infeksi.

6. Lebih Gizi (Obesitas)

Contoh masalah gizi yang satu ini bukan karena kekurangan gizi, tapi justru kelebihan gizi. Pada dasarnya, asupan gizi yang masuk seharusnya sama dengan gizi yang keluar. Namun, jika gizi yang masuk ini lebih banyak, maka seseorang akan mengalami gizi lebih atau disebut dengan obesitas.

Gizi lebih merupakan keadaan di mana tubuh mempunyai berat badan berlebih karena cadangan energi dalam tubuh disimpan dalam bentuk lemak. Salah satu faktor yang mendorong kegemukan adalah kebiasan mengonsumsi makanan yang banyak mengandung lemak, gula, dan garam (junk food).

7. Gizi Kurang (Kurus)

Kegemukan memang tidak baik, tapi begitu pula dengan tubuh kurus. Banyak orang masih menganggap bahwa orang yang kurus akan lebih baik atau sehat daripada orang gemuk. Padahal keduanya sama-sama tidak baik untuk kesehatan.

Gizi kurang di Indonesia ini sering terjadi sejak bayi lahir dan biasanya ditandai dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Bayi dikatakanan berat badan lahir rendah bila saat lahir berat badannya kurang dari 2,5 kg. Kondisi ini membuat tubuh seseorang rentan terhadap penyakit infeksi.

Menurut laporan dari Global Nutrition, Indonesia masuk ke dalam 17 negara yang memiliki 3 permasalahan sekaligus, seperti pendek (stunting), kurus, dan kegemukan. Oleh karena itu, mari penuhi kebutuhan nutrisi setiap hari dengan baik dan bijak.

Beberapa masalah gizi di atas dapat Sobat Sehat tangani dengan konsumsi makanan gizi seimbang. Sobat Sehat juga dapat menambahkan vitamin dan suplemen dalam konsumsi sehari-hari. Untuk mendapatkan vitamin dan suplemen tambahan yang aman, Sobat Sehat bisa mencarinya di Apotek K-24.

Bukan hanya buka selama 24 jam, Apotek K-24 juga memberikan jaminan produk asli 100% dan komplit. Demikian ulasan mengenai berbagai contoh masalah gizi yang sering terjadi di Indonesia, semoga dapat bermanfaat.

 

 Sumber: website Kementerian Kesehatan RI